Tinggalkan komentar

Beberapa bangunan cantik pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, masih bisa dijumpai…,

Alumni SMPN 4 BOGORBuitenzorg (Bogor) adalah salah satu kota pedalaman terpenting pada era Kolonial. Kota ini kaya dengan asset bangunan dan tata kota era akhir abad-19 dan awal abad-20. Hal ini tidak berlebihan mengingat Bogor(dahulu Buitenzorg) pernah menjadi “ibukota” pemerintahan Kolonial Hindia Belanda terutama sejak Gubernur Jenderal Van Alting (1780). Seiring bertambahnya institusi pemerintahan, infrastuktur kota dan lembaga penelitian (khususnya pertanian). Selain itu karakter arsitektur kota dipengaruhi juga dengan pemberlakuan Zona Pemukiman berdasarkan Etnis (WIJKENSTELSEL) pada tahun 1835 – 1915. Salah satu aturan itu menempatkan etnis Tionghwa di distrik Pasar Bogor dsk. Menurut arsitektur Setiyadi Sopanji (Kompas 2003): bahwa struktur kawasan pecinan Bogor terbentuk di sepanjang Jalan Suryakencana (dulu dinamakan Handelstraat atau Jalan Perniagaan sesuai dengan fungsinya sebagai sentra ekonomi kota) yang terletak tepat di antara dua sungai (Ciliwung di timur dan Cipakancilan di barat). Masyarakat Cina yang terkotak-kotak dalam kelas sosial menempati hunian sesuai kelas mereka. Golongan pedagang berkumpul di sekitar Pasar Bogor, sedangkan golongan bawah menghuni ruko sewa dan rumah petak di balik ruko. Golongan elite cenderung menghuni bagian selatan. Rumah mereka biasanya mencirikan gaya hidup yang kebarat-baratan: menggunakan ragam bentukan bangunan Belanda (Eropa) dan menghuni rumah tipe vila. Berkembang akibat pertumbuhan ekonomi seperti halnya kawasan strategis lain, pecinan mengalami banyak transformasi bentuk: mulai dari perubahan fisik bangunan hingga pemadatan hunian di kantong di balik ruko. Terlebih setelah dihapuskannya Wijkenstelsel pada 1915, pembauran permukiman Cina dan Pribumi semakin pesat di kawasan kantong ini. Karakter fisik pecinan Bogor sendiri memudar seiring dengan perkembangan zaman. Peran institusi sosial budaya masyarakat Tionghoa juga menghilang, terutama pada era Orde Baru, seperti fisik Hok Tek Bio yang semakin tenggelam dengan keramaian dan perkembangan fisik lingkungan pasar. (KOMPAS, 21 September 2003 ) Beberapa bangunan cantik pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, masih bisa dijumpai di Jl. Suryakencana dan selepas beberapa ratus meter ke selatan masuk Jl. Siliwangi. Beberapa bangunan tampak tak berpenghuni, sebagian bahkan tampak mengalami kerusakan. Sedangkan sepanjang Jl. Siliwangi selepas Viahara Dharmakaya hingga persimpangan dengan Jl. Batutulis, cukup mencolok keberadaan bangunan-bangunan rumah bergaya “Menteng” yang mulai berkembang sejak tahun 1920an.

Team Alumni SMPN 4 BOGOR :

Penulis : Taufik Hassunna (ALUSPAT 82)

Foto : Heri Heryanto (ALUSPAT 75)

Diposkan oleh Retno Winarni (ALUSPAT 71)

Pemda Kota BOGORAluspat BogorBogor Tempo Doeloe

Taufik Hassunna

Penulis,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: