1 Komentar

Jejak-jejak Pakuan Pajajaran :

Penulis : Taufik Hassunna,

Ekspedisi VOC pada akhir abad ke-17 dan awal abad ke-18. Sersan Scipio yang melewati daerah Batutulis pada hari Sabtu tanggal 26 Juli 1687 dalam perjalanan ekspedisinya mencari pantai selatan, memberitakan adanya sisa-sisa parit dan benteng. la mendapat laporan, kelompok peninggalan purbakala di Batutulis adalah bekas singgasana Raja Pajajaran.

Laporan kedua berasal dari Kapitan Adolf Winkler 15 Juni 1690. la memberitakan telah melewati Pakuan yang terletak di Pajajaran, antara sungai besar (Ciliwung) dan Sungai Tangerang (Cisadane). Berita itu disusul laporan ekspedisi VOC ke lereng Pangrango untuk meneliti sumber gempa bumi dahsyat yang terjadi pada malam tanggal 4/5 Januari 1699 (letusan Gunung Salak)

Ekspedisi yang dipimpin Ram dan Coops. Dalam perjalanan dari Cikereteg lewat Kampung Rancamaya tanggal 29 November 1701, rombongannya sampai ke Tajur. Di daerah ini mereka menemukan sisa “jalan yang lurus ditumbuhi pohon durian kedua tepinya” dan merupakan tempat bercengkrama raja Pajajaran.

Berita keempat berasal dari Abraham van Riebeck yang pernah dua kali mengunjungi Batu tulis. Pertama pada tanggal 17 Aguustus 1703 sebagai Direktur Jendral VOC dan kedua kali pada tanggal 15 Mei 1704 sebagai Gubernur Jendral. la adalah putra Jan van Riebeck pendiri “Kaapstad” di Afrika Selatan. la melaporkan tentang adanya sisa-sisa parit dan adanya gerbang Pakuan (Layungsari/Jerokuta) yang kanan-kirinya diapit oleh dua buah parit yang curam dan dalam. Jarak dari gerbang Pakuan ke Batutulis disebutkan dua menit perjalanan naik kuda.

Bogor Tempo Doeloe

Kebun Raya Bogor pada saat digambar tahun 1772, tanah yang terbuka di lembah sungai Ciliwung. Di latar depan sekelompok wisatawan Eropa didampingi pelayannya sedang menikmati pemandangan sekitarnya. Di lembah tampak air mancur dan di kirinya terdapat tanah pertanian tempat petani bekerja.

Pemda Kota Bogor

 Pada batu yang besar terdapat tulisan, sedangkan pada yang lebih kecil terdapat cetakan telapak kaki. Kedua batu itu terletak di sebidang tanah berbentuk segitiga di sebelah tepi barat sungai Ciliwung (sekarang dikenal dengan daerah Batutulis di Bogor). Di sekitar batu ditumbuhi belukar dan ditutupi bebatuan, diperkirakan bekas tembok pelindungnya.

Pada batu yang besar terdapat tulisan, sedangkan pada yang lebih kecil terdapat cetakan telapak kaki. Kedua batu itu terletak di sebidang tanah berbentuk segitiga di sebelah tepi barat sungai Ciliwung (sekarang dikenal dengan daerah Batutulis di Bogor). Di sekitar batu ditumbuhi belukar dan ditutupi bebatuan, diperkirakan bekas tembok pelindungnya.

Buitenzorg

Pembuktian kepurbakalaan dilakukan oleh CM Pleyte. la berhasil menemukan bekas-bekas benteng atau kuta Pakuan. Ternyata daerah bekas ibukota Pakuan Pajajaran meliputi Jerokuta, Batutulis, Lawanggintung, Pasar Sukasari. Bekas kuta (benteng) Pakuan masih dapat disaksikan di daerah Tajur belakang Kompleks Perumahan LIPI antara Cibalok dan Cipakancilan.

Adapun bekas-bekas parit dapat dilihat di tiga tempat, yaitu sebelah luar sisa kuta, di Batutulis (dari belakang stasiun kereta api membentang sampai ke Balekambang) dan di kompleks perumahan . Dreded terbentang sampai di belakang SD Batutulis I. Dapat dipastikan, bahwa letak bekas ibukota Pakuan Pajajaran adalah di Kota Bogor yang sekarang.

Anggapannya, bahwa bekas istana Pakuan terletak di Istana Bogor sekarang yang berada dari almarhum Suhamir dan MA Salmun, ternyata keliru karena tidak didukung bukti-bukti sejarah lagi. Lagi pula sebagian kesimpulannya didasarkan atas isi “prasasti kebun Raya”. Prasasti ini ternyata “palsu”, karena dibuat oleh Dr Friederich, seorang sarjana yang pertama kali mencoba prasasti Batutulis.

Sejarah Bogor

Penulis

Letak bekas Istana Pakuan, menurut penelitian ialah di daerah Lawanggintung di Kompleks Zeni Angkatan Darat. Hal ini didasarkan kepada hasil penelitian tentang Dam Cipakancilan bagi kehidupan penduduk Pakuan sehari hari, ceritera pantun Bogor dan penelitian penulis atas posisi batu-batu peninggalan Purbakala.

Dari bukti-bukti sejarah di atas, wajarlah bila kita mengambil tahun pendirian Kota Bogor jauh ke masa silam, yaitu pada saat tempat ini menjadi ibukota kerajaan Pajajaran. Selain adanya hubungan historis dan lokasi antara Kota Bogor dan Pakuan, juga terdapat hubungan kependudukan. Tokoh-tokoh Ranggading dan Ki Mangparang adalah tokoh pembesar Pajajaran yang kemudian memimpin masyarakat muslim di Pajajaran di daerah sekitar Batutulis dan Pakancilan.

Taufik Hassunna

Artinya, setelah kekuasaan Pajajaran dipadamkan dan dilanjutkan oleh Banten, Pakuan hanya kehilangan fungsinya sebagai pusat pemerintahan, tetapi tidak kehilangan fungsinya sebagai tempat tinggal, terbukti kemudian di lokasi reruntuhan Kota Pakuan berdirilah Kota Buitenzorg ( BOGOR ).

diPOSkan oleh Retno Winarni

Retno WinarniLebih lengkapnya dapat diKLIK :

http://retnowinarnisite.blogspot.com/p/blog-page_3.html

=======

One comment on “Jejak-jejak Pakuan Pajajaran :

  1. Bukti validitas tinggi otektik mah: hiji. Tdk dijamah,tdk diketahui pakar2 pnjajah. Dua. Braksara brbahasa kuno. Tilu. Uji carbon dating trbukti kekunoanya(utk bnda2 yg bisa uji itu saja),batu agak sulit ujinya. Selain 3 hal tsb sulit n bahkn tdk bisa, trtolak diprcaya spenuhnya. Ingat pnjajah2 bule n pakar2nya trlalu sangat lama brcokol brabad2,mereka dari brmcm2 disiplin ilmu,tntu saja tlah sangat banyak yg ‘diperbuat’ oleh mereka n mereka lakukan untuk kbnaran seju2r2nya sjarah bangsa ‘nusantara’ n ‘indonesia’ ini?..ngimpi,tdk mungkin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: